Golden Ratio: Proporsi Ilahi Antara Matematika dan Seni

Golden Ratio: Proporsi Ilahi Antara Matematika dan Seni

187 telah dibaca. |

Mona Lisa adalah lukisan terkenal karya Leonardo da Vinci, seorang seniman dan ilmuwan Renaisans. Lukisan ini menggambarkan seorang wanita dengan senyum misterius dan latar belakang lanskap.

Salah satu alasan mengapa Mona Lisa begitu dikagumi adalah karena penggunaan Golden Ratio (Rasio Emas), sebuah proporsi matematis yang dianggap estetis dan harmonis.

Proporsi Ilahi

Rasio emas, juga dikenal sebagai proporsi ilahi. Nilai rasio sekitar 1,618 yang dapat ditemukan di alam, seni, arsitektur, musik, dan geometri. Rasio ini diekspresikan dengan huruf Yunani phi (Φ) dan dapat diturunkan dari deret Fibonacci.

Rasio emas dapat dilihat pada Mona Lisa dalam beberapa cara.

Sebagai contoh, jika sebuah persegi panjang membatasi wajahnya dan persegi panjang ini dibagi dengan menarik garis melintasi matanya, maka akan tercipta sebuah persegi panjang emas lainnya.

Golden Ratio: Proporsi Ilahi Antara Matematika dan Seni

Hasilnya adalah rasio panjang kepala Mona Lisa dengan matanya juga merupakan rasio emas.

Contoh lainnya adalah jika sebuah segitiga ditarik dari dagu ke matanya dan ke atas kepalanya, maka akan membentuk segitiga emas, yang memiliki sudut 36°, 72°, dan 72°. Segitiga emas juga bisa ditemukan di bagian lain lukisan, seperti bentuk hidung dan mulutnya.

Geometri dalam Golden Ratio

Da Vinci terpesona oleh rasio emas dan hubungannya dengan alam, seni, dan geometri. Dia mengilustrasikan sebuah buku berjudul The Divine Proportion oleh Luca Pacioli, seorang ahli matematika dan teman Da Vinci. Buku ini mengeksplorasi sifat matematis dan artistik dari rasio emas dan aplikasinya di berbagai bidang. Da Vinci juga menggunakan rasio emas dalam beberapa karyanya yang lain, seperti Perjamuan Terakhir dan Manusia Vitruvian.

Penggunaan rasio emas pada Mona Lisa menunjukkan keahlian dan pengetahuan Da Vinci sebagai seniman dan ilmuwan. Dia mampu menciptakan potret yang realistis dan harmonis yang menangkap keindahan dan misteri wajah manusia. Mona Lisa bukan hanya sebuah mahakarya seni, tetapi juga bukti kekuatan dan keanggunan matematika.

See also  Pompeii; Terawetkan dalam Debu Vulkanik

Baca Juga: Pompeii; Terawetkan dalam Debu Vulkanik

Deret Fibonacci adalah deret angka terkenal yang dimulai dengan 1 dan 1, dan setiap suku berikutnya adalah jumlah dari dua suku sebelumnya. Sebagai contoh, sepuluh suku pertama dari deret Fibonacci adalah: 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, dan 55. Deret ini memiliki banyak sifat dan aplikasi menarik dalam matematika, alam, seni, dan musik. Sebagai contoh, rasio suku-suku berurutan dari deret Fibonacci menyatu dengan rasio emas, yang kira-kira sama dengan 1,618. Rasio emas dianggap menyenangkan secara estetika dan dapat ditemukan di banyak fenomena alam dan karya artistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top